Radikalisme Masuk Kemenkeu, Sri Mulyani: Itu Mengganggu

9
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan konferensi pers tentang Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (2/1/2019). Kementerian Keuangan menyatakan realisasi APBN 2018 sangat baik dan optimal dengan Pendapatan Negara mencapai Rp1.942,3 triliun atau 102,5 persen dari APBN 2018, sedangkan untuk Belanja Negara totalnya Rp2.202,2 triliun atau 99,2 persen dari target APBN 2018. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.
SEKOJA.CO.ID- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berupaya menangkal radikalisme di institusi yang dipimpinnya. Pasalnya gejala tersebut sudah mulai terlihat dengan munculnya sikap eksklusivitas dan intoleransi.

Bukannya tanpa alasan, kondisi tersebut dikhawatirkan bisa mengganggu kekompakan antar pegawai Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“Bagaimana Kementerian Keuangan bisa bersinergi kalau muncul kotak-kotak tadi dari praktik keagamaan yang sifatnya eksklusif memunculkan sikap intoleran,” kata dia di Ritz-Carlton, Pasific Place, Jakarta Selatan, Minggu (22/12/2019).

Hal itu disampaikannya dalam acara Perempuan Hebat untuk Indonesia Maju yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Kegiatan tersebut dibuka oleh Megawati.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu melihat eksklusivitas dan intoleransi mulai tampak di jajaran pegawainya. Itu dinilai bakal mengganggu kerekatan antar ASN di Kemenkeu yang jumlahnya puluhan ribu.

Menurutnya, jajaran di Kemenkeu juga punya peranan menjaga keseimbangan antara profesionalisme, integritas dan tugas sebagai perekat bangsa.

“Eksklusivitas dan intoleransi di Kemenkeu yang sudah mulai kelihatan dan itu mengganggu dari sisi kerekatan. Padahal Kementerian Keuangan itu 87 ribu adalah organ yang merupakan perekat bangsa,” tambahnya seperti dilansir dari Detik.com.(mlm)